Thursday, August 21, 2008

Benahi Keuangan, Belajar Berbisnis, Mulai Berinvestasi

Judu Asli : Yang tidak diketahui dari Warren Buffett - Benahi Keuangan, Belajar Berbisnis, Mulai Berinvestasi
Sumber : Milis SSR-Klub
Penulis :
Iwan Budhiarta, BBA, RFP, CWM

Dear rekan-2 semua,

Saya selalu mengikuti milis ini dan telah terjadi sebuah pembelajaran yang baik sekali. Berbagai informasi yang dibutuhkan selalu mengalir dengan lancar dan terbuka tanpa ditutupi, meskipun pada akhirnya ada beberapa pihak yang merasa 'terserang' integritasnya. Tetapi, itu adalah harga sebuah proses menuju pembelajaran yang positif. Terkadang, kebenaran itu menyakitkan dan mahal harganya.

Mengenai judul di atas, saya memang sengaja membuat sebuah keterkaitan antara kemandirian pengelolaan keuangan pribadi yang sehat, kemampuan memulai belajar berbisnis meski kecil-kecilan, dan yang terakhir mulai mengembangkan aset investasi.

Pada tahapan awal, seperti di buku Pak Freddy Pielor, kita memang harus memperbaiki pola konsumsi kita yang cenderung tidak bebas dari hutang, yang mana akan mengganggu kesehatan cashflow kita. Jika kondisi keuangan pribadi sudah sehat dan mantap, baru kita beralih ke tahapan selanjutnya.

Kita bisa mulai belajar berbisnis. Di sini penekanannya bukan pada keberhasilan bisnis kita. Melainkan benar dan tepatnya cara kita untuk berbisnis. Di dalamnya akan kita pelajari bagaimana membuat sebuah perencanaan bisnis yang bagus, perhitungan keuangan yang lengkap, serta strategi pemasaran yang terstruktur. Mengenai biaya yang keluar, anggap saja sebagai biaya pembelajaran bisnis kita.

Jika sudah lumayan berjalan, kita bisa evaluasi apakah hasil usaha kita sesuai dengan harapan dan perspektif kita. Jika tidak, maka kita harus segera menutup usaha anda. Karena di sini penekanannya bukanlah suksesnya bisnis kita, melainkan benarnya proses bisnis yang kita jalankan.

Nah, seperti yang saya pernah baca dari biografi Warren Buffett, dia bukanlah seorang investor tulen. Dia juga bukanlah seorang pebisnis tulen. Melainkan Buffett adalah gabungan dari seorang ahli bisnis dan investasi. Untuk mencapai kondisinya seperti sekarang ini, ternyata Buffett memulai langkah investasinya dengan belajar menjadi karyawan dulu. Ya, menjadi karyawan.Dia pernah bekerja di perusahaan ayahnya, Phillip Fisher, yang juga seorang analis investasi terkenal pada masanya.

Kenapa? Ya, dengan demikian, dia dapat merasakan bagaimana susah dan senangnya menjadi seorang karyawan sebuah perusahaan. Dalam waktu sekejap, dia naik posisi menjadi seorang pemimpin perusahaan. Di sini tidak dibutuhkan waktu yang lama, karena Buffett memutuskan keluar dan mendirikan bisnis sendiri. Seiring dengan itu, Buffett menambah pengetahuannya dengan melanjutkan sekolah S2 - MBA. Di sini dia menemukan calon rekan bisnisnya, yaitu Charlie Munger. Di sini pula, Buffett menemukan seorang guru investasi terbaik sepanjang masa, yaitu Benjamin Graham.

Setelah memutuskan untuk memulai usaha dengan rekan bisnisnya, Charlie Munger, Buffett mendirikan perusahaan konsultan bisnis dan manajemen investasi, yang sampai sekarang masih dijalankan oleh Charlie Munger. Sementara, dengan uang tabungan yang didapatkannya, dia memutuskan untuk keluar dari perusahaan konsultannya dan membeli saham di Berkshire Hathaway. Di perusahaan ini, Buffett menjadi pemegang saham mayoritas.

Insting dan keahlian berinvestasinya mulai berkembang pesat setelah Buffett menduduki posisi Preskom di Berkshire. Buffett mulai menerapkan ilmu yang didapatkan dari gurunya, Ben Graham dan ayahnya Phil Fisher. Kedua orang tersebut memiliki sistem yang berbeda tetapi saling mengisi dan akhirnya membentuk gaya investasi ala Buffett.

Ben graham cenderung melihat kekuatan saham berdasarkan analisis kuantitatif saja, yaitu dengan menganalisis laporan keuangan yang berisi riwayat dan kinerja perusahaan, serta berbagai rasio-rasio yang ada. Sementara Phil Fisher lebih condong menggunakan analisis kualitatif dalam menentukan saham yang bagus. Fisher selalu melihat kinerja perusahaan secara langsung, melihat kondisi SDM, manajemen dan organisasi perusahaan secara langsung. Dia juga selalu mengamati pasar secara langsung.

Kedua ilmu tersebut akhirnya yang membentuk pola dan gaya berinvestasi Buffett seperti sekarang ini. Jadi, menurut Buffett, untuk menjadi seorang investor yang baik, kita harus memulai dulu dari belajar berbisnis. Kita harus belajar dan terus belajar dari kesalahan-kesalahan, karena Buffett pun tak luput dari kesalahan. Keputusan Buffett untuk berinvestasi membeli saham lebih kepada sebuah keputusan strategi bisnis, karena Buffett juga seringkali terlibat dalam proses bisnis suatu perusahaan.

Telah tercatat bahwa Wal-Mart dan Coca-Cola merupakan perusahaan ideal bagi Buffett, dan dia seringkali menyumbangkan ide-ide bisnisnya agar perusahaan dapat meningkatkan keuntungannya. Buffett seringkali menganalisis kualitas bisnis perusahaan, kemudian meneliti laporan keuangannya, dan setelah itu baru memutuskan untuk membeli saham suatu perusahaan.

Jadi, jika saya rangkum, sebelum berinvestasi, kita harus belajar banyak. Belajar juga merupakan proses investasi ilmu bagi seorang investor. Telah terbukti, bahwa Buffett pun adalah lulusan MBA. Selain itu, kita harus merasakan dan mengetahui seluk-beluk bisnis dahulu sebelum beralih menjadi seorang investor. Idealnya, seorang investor profesional adalah gabungan dari seseorang yang berkeahlian sebagai usahawan handal dan berpengetahuan sebagai seorang begawan ilmu.

Saya telah melihat bahwa banyak teman-2 yang menjadi investor profesional dan berangkat dari karyawan dan usahawan. Seperti Pak Freddy Pielor yang saat ini telah menduduki posisi sangat terhormat di perusahaannya. Saya rasa beliau sangat tepat apabila hendak beralih menjadi investor profesional, karena sudah menguasai ilmu berbisnis yang benar.

Semoga tulisan singkat ini dapat membuka wawasan untuk rekan-2 yang akan mencoba berinvestasi sebelum salah melangkah.


1 comment:

ineshan said...

Tulisan lainnya mana Pak... ditunggu sharing berikutnya..